STORY

OUR STORY

Sejak  kelahirannya  pada  1  mei  2010.  Komunitas perpustakaan dan sekolah rakyat Bhinneka Ceria banyak mengalami  pasang  surut.  Kelahirannya  tak  pernah direncanakan. Diawali hanya dengan bermain malah jadi bukan main-main. Mungkin semangat May Day  dan hari Pendidikan pada tanggal 2 mei terus menghantui kemana langkah  komunitas  ini  berjalan  mencari  sebuah  jalan keluar dari kemelut bangsa. Dulu  perpustakaan  dan  sekolah  rakyat  Bhinneka  Ceria belum sebesar ini, mungkin malah tak memiliki arti. Bila kembali  membuka  lembaran  lama,  hanya  ada kesederhanaan  dan  tawa  dari  anak-anak  di  daerah grendeng, Purwokerto.

Ya, dulu hanya suka kumpul di sore  hari,  menunggu  malam  sambil  mencari  tahu bagaimana menanam  jamur. Itu pun juga  karena  iseng saja. Tak ada maksud lain. Seiring berjalannya waktu, tidak disangka banyak yang mulai membincangkan secara acak bahkan berpartisipasi dalam  kegiatan  nanam  jamur  iseng-iseng  ini.  ide-ide kreatif mulai bermunculan karena bertambahnya kawan - kawan  yang  berdatangan  membantu.  Ada  yang menawarkan  untuk  mengajarkan  musik  sampai melakukan  bimbingan  belajar.  Semua  berdasarkan sukarela dan inisiatif. Dari sini kami tahu, bahwa belajar harus seusai dengan kebutuhan. Semua belajar dan semua mengajar, saling mengisi dan saling  berbagi,  ternyata  di  komunitas  ini  semuanya menjadi  guru.  Kedekatan  itu  semakin  erat,  antara mahasiswa-mahasiswi  pengangguran  tersebut.  Mulailah orang-orang itu bercerita tentang cita-cita yang luar biasa. Membuat komunitas untuk belajar-mengajar. Mimpinya memang sederhana namun entah mengapa kita bersusah payah untuk menjadikannya sebuah kenyataan yang harus ada di depan mata, maka Bhinneka Ceria pun tercetus dari mulut yang tak sengaja berucap sambil tertawa.

Ide  gila  muncul  kembali,  mulai  berimajinasi  merubah negeri. Optimisme itu mulai bangkit didarah muda kami, karena  ternyata  anak  culun  seperti  kami  bisa membangkitkan  semangat  masyarakat  desa  untuk berorganisasi  agar  lebih  mandiri.  Jadi,  kami  tambah berani  untuk  mengejar  mimpi-mimpi  dalam  mengejar kemajuan negeri.

Namanya juga niat baik, ternyata banyak yang tertarik. Ratusan  orang  berbondong-bondong  bergabung  dan puluhan  orang  merintis  Bhinneka  Ceria  di  luar purwokerto  mulai  dari  Jakarta  hingga  Bali.  Bhinneka Ceria seperti tunas-tunas harapan yang berbunga setiap hari,  ada  yang  menanam  bibit  perubahan,  ada  yang menyemai perjuangan. Secara perlahan kita mulai mengerti, bahwa komunitas ini harus memperluas pertemanannya. Tidak hanya terjebak pada  mahasiswa-mahasiswi  tapi  juga  siswa  dan  siswi. Namun,  kini  polisi  hingga  dokter  gigi  pun,  tak  mau ketinggalan  untuk  berkomunitas  dan  menunjukan eksistensi, inovasi dan melunasi janji pada para pendiri negeri.

Ada jalan  keluar  dari  kemelut disana-sini.  Belajar dari perjalanan  kami  berkomunitas,  tidak  bisa  rasanya menyelesaikan  persoalan  bangsa  hanya  dengan  diri sendiri,  tetapi  butuh  pengabdian  akan  kebersamaan. Hingga akhirnya kami sadar, dibutuhkan toleransi untuk melihat  perbedaan  suku,  agama,  ras,  budaya  dan warganegara.  Pada  dasarnya  kita  semua  sama-sama manusia yang setara, yang mengijakan kaki di atas bumi dan berlindung di bawah langit. Berangkat  dari  berbagi  cerita,  Ada  hal  yang  sudah seharusnya tidak ditoleransi oleh komunitas kita. Yakni “pembodohan”,  “ketidakadilan”.  “perampasan”  dan “kemiskinan”  yang  berada  di  atas  dunia.  Persaudaraan kami  tidak  bisa  dibatasi  oleh  teritorial  negara.  Karena sudah semestinya bumi hanya diisi canda, tawa dan cinta setiap anak manusia.

Bagaikan alunan melodi, komunitas Bhinneka ceria selalu mencari  ritme  dan mengembangkan   nada-nada  yang ditawarkan relawan. Bagi kami berkerjasama tidak harus membuat  kita  sama.  Dengan  perbedaan  itulah  yang membuat  kita  dapat  bekerjasama.  Seperti  halnya  nada – nada yang menyatu dalam melodi tentang aku, kamu, dia, mereka dan cita-cita setiap anak manusia.

TOP